engelvione.com

Labuan Bajo, 30 September, 2026 — Dalam tulisan kali ini, saya ingin bercerita sedikit lebih personal tentang keluarga.

Tentang dari mana saya berasal, tentang nilai-nilai yang membentuk saya, tentang rumah yang selalu menjadi tempat untuk pulang, dan tentang bagaimana rasanya kehilangan orang-orang yang kita cintai.

Bagi saya, keluarga melebihi apa pun di dunia ini.

Bahkan jauh sebelum kita lahir, keluarga sudah mengambil bagian dalam perjalanan hidup kita. Mereka mempersiapkan kita untuk hadir ke dunia, membesarkan kita, mengajarkan nilai-nilai kehidupan, dan perlahan melepaskan kita untuk berjalan dengan kaki sendiri.

Dan ketika suatu hari mereka pergi, kita baru benar-benar memahami betapa besar arti kehadiran mereka selama ini.

Where I Come From

Saya dibesarkan dari pihak keluarga Mama.

Mama saya adalah seorang Bali. Dari beliau, saya banyak belajar tentang nilai, wisdom, sikap, dan bagaimana seseorang seharusnya mempersiapkan diri untuk menjadi dewasa.

Ada dua hal yang paling saya ingat dari ajaran Mama: kerja keras dan kejujuran.

Saya masih sangat ingat satu kalimat yang sering disampaikan:

“Jangan pernah minta tolong, selama kamu masih bisa mengerjakan pekerjaan atau hal tersebut sendiri.”

Kalimat sederhana itu ternyata punya pengaruh besar dalam hidup saya.

Mungkin karena itu saya tumbuh menjadi seseorang yang berusaha tough, mandiri, dan sebisa mungkin tidak bergantung kepada orang lain. Bukan berarti kita tidak membutuhkan orang lain, tetapi ada kepuasan tersendiri ketika kita mampu menyelesaikan sesuatu dengan kemampuan sendiri.

Pekak—panggilan untuk kakek dalam keluarga kami—juga meninggalkan banyak pelajaran yang baru sekarang saya sadari maknanya.

Beliau mungkin tidak pernah menjelaskan konsep stoicism kepada saya. Tetapi ketika saya mengingat kembali perkataan dan sikapnya, saya merasa ada banyak hal tentang menerima keadaan, melepaskan, dan mengikhlaskan yang sebenarnya sudah beliau ajarkan sejak saya kecil.

Salah satu kalimat yang paling saya ingat adalah:

“Mau mi diapa.”

Dalam dialek Bugis, kurang lebih artinya, “Mau bagaimana lagi?”

Dulu saya mungkin menganggapnya hanya sebagai sebuah ungkapan biasa.

Tetapi sekarang saya melihatnya dengan cara yang berbeda.

Ada keadaan dalam hidup yang memang tidak bisa kita ubah. Ada hal-hal yang sudah terjadi dan tidak bisa kita ulang. Pada titik tertentu, yang bisa kita lakukan hanyalah menerima, belajar, dan melanjutkan perjalanan.

Mungkin itulah bentuk sederhana dari keikhlasan yang diajarkan Pekak kepada saya.

Saya dan keluarga tumbuh dan besar di Sulawesi Selatan, tepatnya di Kabupaten Luwu Utara.

Walaupun kami tinggal di Sulawesi, lingkungan tempat kami tumbuh cukup heterogen. Ada keluarga dan komunitas dari berbagai latar belakang: Bugis, Jawa, Toraja, Bali, Flores, dan berbagai perkawinan antaretnis yang membuat keluarga kami semakin beragam.

Bagi saya, keberagaman itu bukan sesuatu yang harus diperdebatkan.

Itu adalah bagian dari cerita tentang siapa kami.

Rumah keluarga kami di Sulawesi juga berdekatan. Rumah orang tua, Om, dan Pekak berada tidak terlalu jauh satu sama lain.

Kalau ada acara keluarga, kebaktian, atau sekadar momen tertentu, kami akan saling mengunjungi.

Dan mungkin, tanpa saya sadari, rumah-rumah yang berdekatan itu mengajarkan satu hal penting:

keluarga bukan hanya tentang hubungan darah, tetapi tentang kehadiran.

Tentang siapa yang ada ketika kita membutuhkan.

Tentang siapa yang datang ketika ada kebahagiaan.

Dan tentang siapa yang tetap tinggal ketika hidup sedang tidak baik-baik saja.

Ketika Kehilangan

Kami sangat dekat satu sama lain.

Mungkin kedekatan itu bagi saya berada di urutan kedua setelah kedekatan dengan Tuhan, sebagai orang yang beriman.

Karena itu, ketika seseorang yang kita cintai pergi lebih dahulu menuju Damai Abadi bersama Sang Pemilik Semesta, rasanya ada bagian dari kehidupan kita yang ikut berubah.

Pekak pergi pada tahun 2009.

Saat itu saya masih duduk di kelas 1 SMA.

Saya masih ingat betul bagaimana kabar itu sampai kepada saya.

Waktu itu saya sedang membersihkan pekarangan Asrama Putra SMA Katolik Makale. Kemudian Pastor pembina asrama memanggil saya.

Beliau berkata,

“Opa kamu sudah pergi.”

Sesederhana itu kalimatnya.

Tetapi bagi saya, dunia seperti berhenti sebentar.

Saya menangis sejadi-jadinya.

Sebagai cucu laki-laki pertama, saya memiliki begitu banyak kenangan bersama beliau. Banyak hal kecil yang sampai hari ini masih saya ingat.

Dan semakin dewasa, saya semakin merasa bahwa ternyata ada bagian dari diri saya yang tumbuh menyerupai beliau.

Saya tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan alam dan konservasi.

Saya juga menyukai boxing dan martial arts.

Bahkan beberapa joke saya pun kadang terasa seperti joke beliau.

Hehe.

Mungkin memang begitu cara seseorang tetap hidup di dalam diri kita.

Bukan hanya melalui foto atau cerita, tetapi melalui kebiasaan, karakter, cara berpikir, bahkan hal-hal kecil yang kita lakukan tanpa sadar.

Dan tahun ini, 2026, keluarga kami kembali kehilangan seseorang.

Gede Kris, adik kami, pergi lebih dulu.

Bapak Kris, orang Ende Lio dan Mamanya orang Bali. Ketika kecil, ia tumbuh bersama kami sampai kelas 4 SD, sebelum kemudian melanjutkan SMP dan SMA di Beteleme, Sulawesi Tengah.

Kehilangan kali ini kembali mengingatkan saya bahwa hidup memang tidak pernah benar-benar memberikan kita kepastian tentang berapa lama seseorang akan bersama kita.

Ada orang-orang yang kita pikir akan selalu ada.

Ada orang-orang yang kita pikir masih akan kita temui lagi.

Masih bisa diajak bercanda.

Masih bisa diajak bercerita.

Masih bisa berkumpul dalam satu meja.

Sampai akhirnya, kita menyadari bahwa pertemuan terakhir ternyata adalah pertemuan terakhir.

Rasa sakitnya sulit saya gambarkan.

Sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Bahkan ketika mengingatnya kembali, dada ini masih terasa sesak.

Mungkin memang tidak semua kesedihan harus dijelaskan.

Ada kesedihan yang cukup kita rasakan.

Ada kehilangan yang tidak perlu diterjemahkan menjadi kalimat.

Dan ada orang-orang yang akan selalu kita rindukan, meskipun waktu terus berjalan.

Tentang Pulang

Bagi saya, keluarga adalah tempat kita belajar menjadi manusia.

Tempat pertama kita belajar tentang kasih sayang, tanggung jawab, kerja keras, kejujuran, keberanian, dan keikhlasan.

Saya juga memahami, bahwa kasih sayang tidak selalu berakhir ketika seseorang pergi.

Saya percaya Pekak dan Gede Kris telah tenang dalam Kedamaian itu.

Saya juga percaya, dalam iman kami, bahwa mereka tetap menjadi pendoa bagi kami yang masih melanjutkan perjalanan di dunia.

Mungkin itu juga yang membuat kehilangan menjadi sedikit lebih bisa diterima.

Bukan karena rasa sakitnya hilang.

Tetapi karena kita percaya bahwa cinta tidak berhenti hanya karena kematian.

Keluarga adalah Kekayaan

Semakin jauh saya berjalan dalam hidup, semakin saya memahami bahwa banyak hal yang kita kejar ternyata bukanlah kekayaan yang sesungguhnya.

Pekerjaan.

Karier.

Uang.

Pencapaian.

Pengakuan.

Semuanya penting dalam porsinya masing-masing.

Tetapi pada akhirnya, ketika hidup membawa kita kembali kepada hal-hal yang paling mendasar, kita akan mencari tempat yang sama:

rumah.

Mencari orang-orang yang mencintai kita.

Mencari suara-suara yang familiar.

Mencari meja makan tempat kita pernah duduk bersama.

Mencari cerita lama yang pernah kita tertawakan bersama.

Dan mungkin, itu sebabnya bagi saya memiliki keluarga yang mencintai kita adalah definisi kekayaan yang sesungguhnya.

Kita mungkin tidak bisa memilih dari keluarga seperti apa kita dilahirkan.

Tetapi kita bisa memilih bagaimana meneruskan nilai-nilai yang mereka berikan.

Kita bisa memilih untuk membawa kerja keras itu.

Membawa kejujuran itu.

Membawa keberanian untuk mandiri.

Membawa kemampuan untuk menerima keadaan.

Dan yang paling penting, membawa kasih sayang itu kepada generasi setelah kita.

Karena pada akhirnya, mungkin warisan terbesar dari sebuah keluarga bukanlah rumah, tanah, uang, atau benda-benda yang ditinggalkan.

Melainkan nilai dan cinta yang terus hidup di dalam diri orang-orang yang ditinggalkan.

Dan selama nilai serta cinta itu masih kita bawa, mereka sebenarnya tidak pernah benar-benar pergi.

Mereka tetap hidup.

Dalam cara kita berpikir.

Dalam cara kita memperlakukan orang lain.

Dalam kebiasaan-kebiasaan kecil kita.

Dalam doa-doa kita.

Dan dalam cerita yang suatu hari nanti akan kita ceritakan kembali kepada generasi setelah kita.

Keluarga adalah segalanya.

— Engel Vione

Share my story!