Pemanfaatan AI Buka Peluang Baru bagi UMKM Labuan Bajo untuk Naik Kelas
Labuan Bajo, 25 Agustus 2026 — Pemanfaatan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) semakin membuka peluang bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk meningkatkan efektivitas pemasaran dan pengelolaan bisnis di era digital. Hal tersebut menjadi salah satu fokus dalam pelatihan “UMKM Naik Kelas: Jurus Jualan Laris & Digital Makin Manis”, bagian dari program InJourney Creative Hospitality (ICH) 2026 berkolaborasi dengan PenaKita , yang berlangsung di Zasgo Hotel, Labuan Bajo, Kamis (6/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Engel Vione, Founder Lingkotech, berbagi praktik pemanfaatan AI yang dapat diterapkan secara sederhana oleh pelaku UMKM di Labuan Bajo, mulai dari membuat caption dan ide konten media sosial hingga membantu menyusun respons terhadap pertanyaan maupun keluhan pelanggan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong pelaku UMKM untuk tidak hanya hadir di media sosial, tetapi juga memanfaatkan platform digital secara lebih strategis untuk membangun brand, berkomunikasi dengan pelanggan, dan memperluas jangkauan pasar.
Mengubah Cara Pandang terhadap Media Sosial dan AI
Sebelum sesi pemanfaatan AI, peserta mendapatkan materi mengenai branding, media sosial, dan digital marketing yang disampaikan oleh Fitri Ciptosari, dosen Politeknik eLBajo Commodus.
Fitri mengajak pelaku UMKM mengubah cara pandang terhadap media sosial dan AI sebagai bagian dari strategi pengembangan usaha. Menurutnya, media sosial tidak semata-mata menjadi tempat untuk menawarkan produk, tetapi juga ruang untuk membangun cerita dan identitas sebuah brand.
“Sekarang pelaku UMKM perlu melihat media sosial bukan sekadar tempat untuk berjualan, tetapi sebagai ruang untuk bercerita dan membangun branding. Begitu juga AI, tidak perlu dipandang sebagai teknologi yang rumit, melainkan sebagai asisten digital yang dapat membantu pekerjaan sehari-hari,” ujar Fitri.
Menurut Fitri, keberhasilan pemasaran digital saat ini tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering pelaku usaha menawarkan produk. Kemampuan membangun kepercayaan, menghadirkan cerita di balik produk, dan menciptakan hubungan yang lebih dekat dengan pelanggan melalui konten yang relevan juga menjadi faktor penting.
Perspektif tersebut kemudian dilanjutkan melalui sesi praktik pemanfaatan AI yang dibawakan Engel.
AI sebagai Asisten Digital bagi UMKM
Dalam sesi tersebut, peserta diperkenalkan pada berbagai penggunaan AI yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari pelaku usaha.
Mulai dari membuat caption, mengembangkan ide konten, menyusun konsep promosi, hingga membantu merespons pertanyaan pelanggan, AI diperkenalkan sebagai alat bantu yang dapat menghemat waktu dan membantu pelaku UMKM bekerja lebih efektif.
“AI bukan pengganti pemilik usaha. AI adalah asisten. Kita tetap punya cerita, pengalaman, dan karakter brand yang tidak bisa digantikan oleh teknologi. AI membantu kita mengolah ide dan mengerjakan pekerjaan yang sebelumnya mungkin membutuhkan waktu lebih lama,” ujar Engel Vione.
Menurut Engel, penggunaan AI tidak harus dimulai dari teknologi yang kompleks. Pelaku UMKM dapat memulainya dari persoalan sederhana yang mereka hadapi setiap hari.
Salah satu contohnya adalah pembuatan caption. Alih-alih hanya meminta AI membuat caption untuk sebuah produk, pelaku usaha dapat memberikan informasi mengenai karakter produk, target pelanggan, keunggulan, gaya komunikasi, dan tujuan konten.
“Jangan hanya bertanya kepada AI, ‘Buatkan caption untuk produk saya.’ Berikan AI konteks. Ceritakan siapa kita, siapa pelanggan kita, apa yang membuat produk kita berbeda, dan apa yang ingin kita capai. Semakin baik kita memberikan konteks, semakin relevan hasil yang bisa kita dapatkan,” jelas Engel.
Belajar Membuat Konten yang Lebih Relevan
Peserta juga diajak memanfaatkan AI untuk mengembangkan ide konten media sosial. Konten tidak harus selalu berorientasi pada penjualan secara langsung, tetapi dapat digunakan untuk membangun hubungan dengan audiens.
Beberapa pendekatan yang diperkenalkan antara lain membuat konten mengenai:
- cerita di balik produk;
- proses produksi;
- pengalaman pelanggan;
- edukasi;
- tips dan informasi;
- cerita pemilik usaha;
- keunikan produk dan nilai lokal.
Pendekatan tersebut diharapkan membantu pelaku UMKM membangun komunikasi yang lebih natural di media sosial sekaligus memperkuat identitas brand.
Engel menilai hal tersebut relevan bagi UMKM di Labuan Bajo yang memiliki kekuatan pada cerita lokal, budaya, kreativitas, bahan baku, dan pengalaman personal di balik produk.
“Banyak UMKM di Labuan Bajo sebenarnya punya produk yang menarik. Persoalannya sering kali bukan produknya, tetapi bagaimana menceritakan produk tersebut. Kita perlu membantu mereka menemukan cerita yang sudah ada di dalam bisnisnya sendiri,” ungkap Engel.
AI untuk Membantu Melayani Pelanggan
Selain konten, pemanfaatan AI untuk komunikasi dengan pelanggan menjadi salah satu bagian praktik yang diperkenalkan kepada peserta.
Dalam aktivitas bisnis sehari-hari, pelaku usaha menghadapi berbagai pertanyaan mengenai harga, ukuran, ketersediaan, pengiriman, hingga keluhan pelanggan. Respons yang diberikan dapat memengaruhi pengalaman pelanggan sekaligus citra sebuah brand.
AI dapat digunakan untuk membantu menyusun respons yang lebih terstruktur, sopan, dan sesuai dengan karakter komunikasi sebuah bisnis.
“Ketika pelanggan komplain, jangan langsung membalas dengan emosi. Gunakan AI sebagai teman untuk membantu kita menyusun respons. Tetapi empati tetap harus datang dari manusia. Kita yang memutuskan bagaimana pelanggan ingin diperlakukan,” kata Engel.
Menurutnya, interaksi dengan pelanggan di media sosial merupakan bagian dari branding. Cara sebuah bisnis menjawab pertanyaan maupun menangani keluhan dapat menjadi gambaran mengenai nilai dan profesionalitas bisnis tersebut.
Mendorong Transformasi Digital UMKM di Flores
Sebagai seorang praktisi IT, Engel melihat peningkatan literasi digital menjadi salah satu kebutuhan penting bagi perkembangan UMKM di Flores.
Menurutnya, perkembangan AI memberikan peluang bagi pelaku usaha untuk bekerja lebih efisien sekaligus membuka akses terhadap berbagai kemampuan yang sebelumnya mungkin membutuhkan sumber daya lebih besar.
Namun, ia menekankan bahwa teknologi tetap harus ditempatkan sebagai alat bantu.
“Transformasi digital bukan berarti semua harus menjadi serba canggih. Transformasi digital adalah ketika teknologi benar-benar membantu kita bekerja lebih baik. Saya berharap teman-teman UMKM di Labuan Bajo pulang dari kegiatan ini bukan hanya membawa pengetahuan tentang AI, tetapi juga keberanian untuk mulai mencoba,” tutup Engel Vione.
Melalui kegiatan tersebut, InJourney Airports Creative House 2026 bersama PenaKita berharap semakin banyak UMKM di Labuan Bajo mampu memanfaatkan media digital dan AI secara strategis untuk memperkuat merek, meningkatkan efektivitas pemasaran, serta memperluas jangkauan pasar.
— Engel Vione
Founder, Lingkotech
Pos-pos Terbaru
Topic
Search