Natal, Perjalanan Panjang, dan Kenangan Manis Bersama Keluarga
Desember selalu punya cara istimewa untuk menarikku kembali ke tempat segalanya bermula.
Tahun ini terasa lebih bermakna. Setelah berbulan-bulan bekerja, tenggat waktu, dan aktivitas tanpa henti di Labuan Bajo, akhirnya saya mengemas tas dan memutuskan untuk menghabiskan Malam Natal dan menyambut Tahun Baru 2026 di kota masa kecilku: Sukamaju, Luwu Utara, Sulawesi Selatan — tempat yang diam-diam membentuk siapa diriku hari ini.
Perjalanan Panjang Pulang
Pada tanggal 22 Desember, aku terbang dari Labuan Bajo ke Bali, hanya butuh 45 menit untuk sampai ke Bali kemudian melanjutkan penerbangan lain ke Makassar, sekitar 1,5 jam. Petualangan sesungguhnya dimulai setelah mendarat. Karena ada dua cara untuk mencapai Sukamaju, dengan pesawat atau dengan mobil. Aku tidak memilih pesawat karena lebih mahal, juga tidak mudah membeli tiket pesawat di musim liburan.
Aku memilih pilihan kedua, namun aku tidak punya tiket bus ke Sukamaju. Aku terlalu sibuk dengan aktivitasku di Labuan Bajo saat itu.
Oh ya, saya lupa memberitahu, penerbanganku dari Bali tertunda. Seharusnya saya tiba di Makassar pukul 6 sore, tetapi kenyataannya saya tiba pukul 9 malam.
Bapak bilang, katanya ada “seseorang” yang merupakan agen atau perantara. Alih-alih panik, aku mencoba mempercayai orang ini yang dengan percaya diri berkata,
“Tenang mi saja, saya carikan ki’ mobil kecil ke Sukamaju.”
Dan begitu saja, dia membantuku menemukan bus kecil. Harganya sedikit lebih mahal, tetapi aku tidak peduli selama aku sampai di kampung halamanku. Ya, kami menuju utara, melewati jalan-jalan panjang, kota-kota yang tenang, banyak masjid di sepanjang jalan.
Waktu tempuh sebenarnya dari Gowa ke Sukamaju sekitar 10 jam. Namun, karena menurunkan barang bawaan penumpang lain, aku tiba di Sukamaju pukul 2:30 siang, sehingga perjalanan (melalui darat) menjadi sekitar 13 jam.
Kembali ke Awal Kisahku
Sukamaju menyambutku dengan cara yang sama seperti biasanya — perlahan, hangat, dan jujur.
Saya lahir di Sulawesi Selatan, dengan ayah dari Flores dan ibu dari Bali. Perpaduan budaya itu selalu mengikuti saya ke mana pun saya pergi, tetapi kembali ke sini mengingatkan saya betapa dalam kota ini hidup dalam ingatan saya.
Saya menghabiskan hari-hari saya:
Berjalan-jalan di jalan-jalan tua
Bertemu wajah-wajah yang familiar
Menikmati percakapan sederhana
Membiarkan waktu berjalan lebih lambat
Malam Natal terasa berbeda di sini. Lebih tenang. Lebih dalam.

Saya menghadiri beberapa Misa Natal, masing-masing membawa rasa syukur yang sudah lama tidak saya rasakan. Ada sesuatu yang luar biasa tentang berdoa di tempat di mana iman masa kecil Anda pertama kali terbentuk. Apa anda setuju dengan saya?
Natal, Rasa Syukur, dan Kebahagiaan Sederhana
Tidak ada pesta hitung mundur.
Tidak terburu-buru.
Hanya suara serangga.
Hanya keluarga, kenangan, tawa, dan refleksi.
Liburan ini mengingatkan saya bahwa tidak peduli seberapa jauh saya pergi — dari Sukamaju ke Toraja, Yogyakarta, dan Flores — rumah tetaplah tempat hati saya merasa ringan.
Saat tahun 2026 mendekat, saya merasa bersyukur:
atas perjalanan,
atas orang-orang yang saya temui di sepanjang jalan,
atas kegagalan,
dan atas kesempatan untuk menciptakan sesuatu
Terkadang, cara terbaik untuk mempersiapkan masa depan
adalah dengan kembali — bahkan sebentar — ke tempat kisah Anda pertama kali dimulai.
Selamat Natal dari Sukamaju,
dan selamat datang, 2026 🌲✨
—
Engel Vione
Founder, Lingkotech
Pos-pos Terbaru
Topic
Search
Mari Berkolaborasi!
Saya bukanlah orang terbaik yang pernah Anda temui, tapi Anda dapat mengandalkan saya untuk menyelesaikan permasalahan Anda. Sound fair enough right?