Keamanan Siber dan Pariwisata: Pelatihan Teknis CSIRT 2025
Pada tanggal 3 September 2025, saya berkesempatan mengikuti Pelatihan Teknis Kesiapsiagaan Insiden Keamanan Siber untuk Tim Computer Security Incident Response Team Indonesia (CSIRT Indonesia) dari Organisasi Pemerintah Pusat.
Adapun sebelumnya, Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF)—di organisasi ini, saya berkontribusi dalam bidang TI dan komunikasi publik—belum memiliki tim CSIRT resmi. Itulah mengapa saya sangat antusias ketika BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara), melakukan kunjungan perdana ke kantor kami. Misi mereka? Untuk mensosialisaikan tentang mengapa BPOLBF wajib memiliki tim CSIRT sendiri.
Dan jujur saja, waktunya sangat tepat.
Mengapa Ini MenjadiPenting
Selama bimbingan teknis, kami membahas Laporan World Economic Forum (WEF) 2025. Temuannya sangat mengkhawatirkan: ketegangan geopolitik, ancaman berbasis AI, dan kerentanan rantai pasokan menciptakan risiko yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap infrastruktur penting di seluruh dunia.
Kemudian muncul angka-angka dari BSSN-IDSIRTII/CC: hanya pada Juli 2025 saja, lalu lintas internet anomali di Indonesia mencapai 567.717.476 insiden. Ya, Anda membaca dengan benar. Setengah miliar. Itu bukan sekadar kebisingan—itu adalah sebuah panggilan untuk bersiap-siap akan serangan siber.
Latihan Siber
Salah satu bagian paling keren dari acara tersebut adalah sesi Latihan Siber. Ini bukan hanya tentang duduk dan mendengarkan—kami benar-benar dapat menguji keterampilan kami, mensimulasikan ancaman, dan melihat seberapa baik kami dapat merespons di bawah tekanan. Bagi saya, rasanya seperti kembali ke akar saya.
Sebelum saya terlibat dalam pariwisata dan pemerintahan, saya pernah join dalam komunitas Open Source. Pada tahun 2013, saya menjadi General Coordinator Komunitas Open Source Sanata Dharma (SaOS) di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Kami adalah kelompok yang geeky tetapi penuh semangat—kami membangun Sistem Operasi Sanata Dharma (dengan core kernel Linux), mengkloning repositori Ubuntu ke repository lokal SaOS, dan juga mengembangkan web komunitas kami sendiri. Pada waktu itu, Saya juga merupakan bagian dari Ubuntu Jogja dan Komunitas Pengguna Linux Indonesia.
Jadi, berpartisipasi dalam sesi latihan keamanan siber terasa seperti menemukan kembali semangat lama itu. Sensasi masuk kembali ke dalam dunia geek tersebut.
Seperti Apa CSIRT BPOLBF di Masa Depan?
Sekarang, mari kita bicara tentang masa depan. Jika BPOLBF membentuk CSIRT sendiri (dan saya sangat yakin BPOLBF akan memilikinya), berikut adalah hal-hal yang saya bayangkan dapat kita fokuskan:
- Incident Coordination – menetapkan protokol yang jelas ketika terjadi kesalahan.
- Digital Infrastructure Protection – menjaga keamanan portal pariwisata, sistem TIK, dan Pusat Komando.
- Staff Training & Awareness – melakukan ini secara teratur, sehingga semua orang dalam organisasi tetap waspada.
- Kolaborasi dengan CSIRT Se-Indonesia – karena keamanan siber adalah merupakan pekerjaan secara bersama-sama, dan kita perlu terhubung dengan CSIRT pusat atau nasional seperti BSSN.
My Thoughts
Saya merasakan dua hal: urgensi dan optimisme. Urgensi, karena ancaman itu nyata dan besar. Optimisme, karena dengan pola pikir dan kolaborasi yang tepat, kita dapat membangun pertahanan yang kuat—bahkan di tempat-tempat seperti BPOLBF, di mana pariwisata dan ekosistem digital tumbuh beriringan.
Bagi saya pribadi, ini bukan sekadar workshop saja. Ini adalah pengingat mengapa saya jatuh cinta pada teknologi sejak awal, dan mengapa keamanan siber harus penting bagi siapa pun yang serius membangun sistem digital yang berkelanjutan.
Semoga CSIRT BPOLBF sendiri segera menjadi kenyataan. Karena melindungi pariwisata hari ini berarti melindungi masa depan digital Flores.
—
Engel Vione
IT Support & Staf Komunikasi Publik
Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores
Kementerian Pariwisata Republik Indonesia
Pos-pos Terbaru
Topic
Search
Mari Berkolaborasi!
Saya bukanlah orang terbaik yang pernah Anda temui, tapi Anda dapat mengandalkan saya untuk menyelesaikan permasalahan Anda. Sound fair enough right?